844qKETIADAAN
ABADI
Apalah artinya aku…
Adaku dan tiadaku adalah sama…
Tak ada yang patut disebut sebagai milikku...
Segala apa yang ada dan terjadi dalam rengkuh ruang dan waktu,
adalah bayangan nyata yang sejenak muncul sebagai hakekat,
dan kemudian sirna tuk kembali pada ketiadaan asalnya yang abadi…
HILANGNYA
“KITA”.
Hanya ada Aku, Kau dan Dia,
Tiga makna pengukir derita…
Hanya ada Senang, Puas dan Bangga,
Tiga makna penabur duka…
Hanya ada Cinta, Damai dan Mesra,
Tiga makna pembasuh lara…
Entahlah…0
Mungkin saja makna “Kita” telah lama terkubur bersama raibnya kesadaran cinta umat manusia…
CITRAAN
SEMENTARA
Tak ada yang hilang…
Semua hanyalah fatamorgana
dan citraan-citraan sementara…
Banyak yang telah terjadi tuk kemudian terhenti lalu terlupakan…
Tinggal bingkai-bingkai hakekat dan makna sebuah peristiwa…
Sebatas itulah kita dapat menikmati masa lalu kehidupan fana…
Dan saat ini, musti kita hayati wujud diri kita sendiri tuk dapat kita kenang saat keniscayan masa depan datang menyapa…
Bimbinglah jiwa kita berkelana tuk temukan arti pengembaraan diri yang sejati…
MUTIARA
MULIA
Ibarat mutiara mulia,
jiwa ini tak akan kubiarkan berserpih karena pecah terjatuh…
Aku sadar, meski serpihan itu akan tetap berkilau dan memiliki keindahannya sendiri,
namun keutuhan alami tak akan terwujud kembali tuk dapat kunikmati…
Mutiara itu selamanya akan tetap jadi milikku…
Tapi, melalui kilauan-kilauannya akan kusapa siapa saja yang bisa menikmatinya…
Tak akan kubiarkan mutiara itu tersentuh,
meski oleh jemari kekanakanku sendiri…
KEHADIRAN
JIWA
Tak ada kehadiran tanpa jiwa…
Saat kesadaran bersua bisikkan cinta,
nurani kan segera hadir tawarkan kasih mesra nirwana…
Tak ada damai tanpa cinta abadi…
Saat kehendak diri menimang akal budi dalam ayun ketulusan pribadi,
pancaran ruh suci kan segera hadir taburkan aroma surga dalam sukma…
BIARKAN
SEMUA BERKELANA
Sejenak mata batinku melihat potret panorama masa depan hidupku sendiri…
Tampak gurat-gurat keindahan terpahat rapi pada dinding-dinding natura keniscayaan…
Seberkas cahaya suci telah menanti
tuk berikan makna terang dan hangatnya damai dalam dekap lembut sejarah abadi…
Ada yang bergegas mengusik kesadaranku yang masih sangat labil dan terabaikan…
Namun, segera saja jiwaku meronta dan menghempaskannya…
Batin ini pun segera kuayun dalam timangan kasih kepanditaan sang waktu…
Terdengar irama kebersamaan mengalun merdu iringi lantunan puisi cinta alam semesta…
Ketika itu, kuberanikan diri lambaikan tangan tuk ucapkan selamat tinggal pada keterhimpitan…
Dan akhirnya aku pun mengerti, hidup ini memiliki sejarahnya sendiri…
Segera saja kutuliskan petuah dalam batinku: “Biarkanlah semua yang ada berkelana tuk temukan makna hakiki dan kesejatian fitri dirinya sendiri”…








0 comments:
Posting Komentar